/
0 Comments
"Awal memancing fisik di
SD inpres mayubutu Madi Paniai papua"
(Foto/doc/milik pigai witokai kutik foto berwarna hitam putih versi hp vivo fersis)

Gelap. Hitam pekat. Tiada warna, tiada cahaya. Itulah pemandangan yang selalu menemaniku di setiap hari waktu itu. Memang tidak mudah terlahir sebagai tuna netra, terbiasa dengan kegelapan yang mencekam, tanpa celah bagi cahaya untuk masuk. Aku benci keadaanku ini. Aku benci terlahir seperti ini. Ada banyak hal yang ingin kulakukan, banyak hal yang ingin kucoba, tetapi kekuranganku ini selalu menghambatku, selalu menghalangiku dari mencapai apa yang ingin kucapai.

Sembari mengehela napas panjang, aku melanjutkan perjalananku menyusuri lorong. Aku telah menghafal setiap belok dan likuk sekolahku itu, sehingga aku tidak lagi membutuhkan siapapun untuk memanduku di dalam lingkungan sekolah.
Aku mengulurkan tanganku ke samping, merasakan dinginnya permukaan jendela yang berada pada kiriku. Langkahku melambat.

Sunyi senyap. Aku tidak tahu pasti jam menunjukkan pukul berapa saat itu, tapi aku yakin matahari sudah terbenam. Kehangatan sinar mentari yang biasa kurasakan berdiri di samping jendela tersebut sudah lama memudar.
Kegelapan. Gelaplah yang kulihat. Dingin pula yang kumerasakan. Aku benci dengan perasaanku ini.

Ini benar-benar tidak adil. Anak-anak lain seumuranku dapat melakukan berbagai hal yang mereka sukai. Mereka dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan. Sedangkan Aku? Berjalan dari rumah ke sekolah saja aku masih harus ditemani nenekku
Kekosongan yang amat hebat sering kali menghantam dadaku. Kekosongan yang muncul akibat kekuranganku ini. Sering terlintas dalam benakku, perubahan macam apa yang dapat terjadi pada hidupku jikalau aku dianugerahi penglihatan? Akankah aku menjalani kehidupan yang benar-benar berbeda dari yang sedang kujalani sekarang? Dapatkah aku hidup seperti anak-anak lainnya seumuranku? Akankah aku menjadi lebih bahagia?

Aku berhenti berjalan, menarik napas panjang dan berdiri mematung untuk waktu yang lama. Saat itulah aku sadar bahwa langkah kaki dan napasku bukan satu-satunya suara yang mengisi kesunyian lorong tersebut. Aku menajamkan pendengaranku. Mereka berkata, ketika seseorang memiliki kelemahan dalam salah satu inderanya, inderanya yang lain otomatis akan bekerja lebih tajam. Mungkin pernyataan tersebut benar, karena pendengaranku memang jauh lebih tajam dan jelas dibandingkan pendengaran orang-orang lain di sekitarku.

Melodi yang indah memenuhi gendang telingaku, samar tapi jelas. Suara piano seketika meredam kesunyian yang hampir menelanku hidup-hidup. Nada yang dimainkan energetik dan bergairah, membuatku melupakan duka dan kegelisahan yang baru saja kurasakan dalam hitungan detik-adik aku. Aku menoleh ke belakang, terpancing oleh permainan yang begitu indah dan menyentuh hati. Lekas, aku memutar tubuhku dan melangkah maju.

Satu-satunya ruangan dengan piano di sekolah ini hanyalah ruang musik dan naluriku berteriak agar aku segera bergerak dan menemukan sumber melodi tersebut.

Apa yang akan kulakukan ketika aku menemukan sumber suara tersebut? Akankah aku mendobrak masuk ruang musik dan memperkenalkan diri kepada sang maestro yang bermain sebegitu indahnya? Atau akankah aku menunggu di depan ruangan dan mendengarkan permainannya diam-diam seperti seorang penguntit yang memiliki terlalu banyak waktu untuk dibuang? Kedua ide terdengar sangat buruk di benakku.

Kupercepat langkahku, menggunakan tangan kiriku untuk menelusuri dinding di sebelahku sebagai satu-satunya pemandu yang dapat mengantarkanku ke ruang musik. Nada-nada piano terdengar semakin vibran dan jelas di setiap langkah yang kuambil.

Aku berhenti ketika nada-nada tersebut terdengar begitu nyaring di telingaku. Tanganku meraba permukaan pintu yang mengarah kepada sumber melodi tersebut. Ketika kukira lagu telah berakhir, jari-jari sang pianis kembali menari-nari di atas tuts piano, mengeluarkan suara-suara indah yang memikat. Aku terpaku, mulut menganga takjub.

Sang pianis memainkan lagu yang berbeda, lagu yang terdengar begitu melankolis dan indah di telingaku. Dibandingkan lagu yang pertama, lagu ini jauh lebih lembut dan lambat. Aku dapat merasakan hatinya, merasakan perasaannya yang begitu lembut dan halus di setiap nada yang ia mainkan. Permianannya memberikan kesan bahwa ia sedang mencurahkan seluruh hatinya dalam lagu yang ia mainkan. Kututup mataku perlahan, sebuah gerakan yang tentunya tidak akan mengubah apapun.
Dari kecil, aku selalu menyukai musik, terutama musik klasik. Musik adalah satu-satunya hal yang dapat kunikmati sepenuhnya tanpa pengelihatanpun.

Seketika, kegelapan yang seharusnya terasa akrab di mataku berubah menjadi sesuatu yang begitu asing. Lantunan melodi yang memenuhi telingaku begitu vibran, begitu berwarna. Jika kuberkata bahwa aku telah menemukan definisi warna dalam setiap melodi yang mengalun di lagu ini, tidak akan ada yang percaya. Tetapi itulah yang kurasa, itulah yang kulihat. Lagu ini berbeda dari lagu-lagu lainnya yang pernah kudengar. Semua aspek dalam lagu ini dimainkan dengan begitu tulusnya, begitu indahnya. Lagu tersebut diakhiri dengan indah, mengundang kembali dengan kesunyian.

Tahap keseriusan 

Kubuka mataku. Kegelapan kembali menyambutku, kegelapan yang kutahu tidak akan pernah meninggalkanku, ditemani oleh sunyi yang membawa sesak. Kekecewaan melanda ketika suara piano yang tadinya membanjiri lorong kembali ditelan kesenyapan.

“Hei.” Sebuah suara memanggil dari dalam ruangan. Aku membeku, jantung berdegup keras. “Aku sudah lihat kamu, jadi kamu tak perlu sembunyi-sembunyi lagi."
Suara tersebut mengulang, dalam dan serak. Aku mematung di depan pintu, terkejut.
“Masuk saja.” Ujar suara itu, dingin. Bingung, aku memutar kenop pintu di hadapanku dan melangkah masuk ke ruangan tersebut. Aku berdiri dengan canggung, membelakangi pintu. Entah mengapa aku memilih untuk mengikuti perkataan suara tersebut dengan patuh. Kesunyian memenuhi ruangan, membuatku mengira akulah satu-satunya orang di ruangan tersebut.
“Gimana?” Suara tersebut berkata, lebih lembut kali ini.
“Gimana apanya?” Tanyaku bingung.
“Gimana permainan pianoku?” Suaranya dalam dan terdengar begitu jelas di telingaku. Pertanyaan tersebut mengejutkanku. Aku membuka mulutku untuk menjawab, namun tidak ada sepatah katapun yang dapat kulontarkan. Tak kutemukan satu katapun yang dapat mendeskripsikan permainannya yang begitu indah.
“Sebagus itukah permainanku? Sampai kamu tidak dapat berkata-kata?” Suara tersebut tiba-tiba terdengar ringan, dan aku bisa membayangkan senyum yang merekah di bibir pemilik suara tersebut. Ia benar-benar membacaku. Aku mengangguk, degup jantungku melambat. Suara tersebut tertawa, tawa hangat yang memenuhi ruangan, Atau kamu terkejut seorang cowok seperti aku bisa main piano seperti ini?” Candanya lagi. Aku menggeleng. Suara tersebut diam untuk sementara, aku mendengar langkah kaki dan suara piano menutup.

“Kamu sudah selesai main?” Tanyaku canggung, kekecewaan terdengar dalam suaraku.
“Ini sudah jam berapa? Kamu mau aku tetap di sekolah sampai malam? Aku mau pulang.” Ujarnya datar. Aku membisu, canggung. Aku tetap berdiri seperti patung di dekat pintu, merasakan langkah kaki yang ringan mendekatiku.
“Aku main setiap hari kok. Jadi kalau kamu mau, kamu bisa datang lagi besok. Mungkin aku bisa mengajarimu cara bermain pula.” Ia berkata, mengejutkanku. Aku dapat merasakannya berdiri di hadapanku. Ini pertama kalinya seseorang menawarkan diri untuk mengajarkanku cara bermain alat musik. Tawaran seperti ini tidak pernah kujumpai sebelumnya. Siapa sih yang mau mengambil tanggung jawab untuk mengajarkan seroang tuna netra bermain piano? Aku terkesiap.
“Aku tidak keberatan” Suara tersebut meyakinkanku dengan hangat.
Aku mencoba untuk mengarahkan pandanganku menuju sumber suara tersebut. Di saat itu juga, aku memutuskan bahwa aku menyukai pemilik suara tersebut.
“Bagaimana?” Ulangnya. Aku tersenyum dengan lebar, sebelum menganggukkan kepalaku dengan antusias. Aku akan melakukan apa saja untuk mendengar permainannya sekali lagi. Ia tertawa kecil, sebelum menepuk pundakku dan berjalan melewatiku, keluar dari ruang musik dan meninggalkanku sendiri.

Perasaanku bercampur aduk, sebuah efek samping dari pertemuanku dengan sang pianis tadi dan permainan pianonya yang luar biasa. Aku bergerak menuju grand piano yang bertengger di tengah ruangan, meraba-raba sekitarku. Aku membuka tutup piano dan duduk di atas kursi di hadapannya. Perasaan ini begitu asing bagiku, yang tidak pernah menyentuh alat musik apapun seumur hidup. Tidak sedikit orang yang memberitahuku untuk tidak membuang-buang waktuku dengan bermain alat musik. Mereka tidak pernah memberitahuku mengapa, tetapi aku dapat menereka alasannya.-------

Teriknotis oleh buta.

Kekuranganku ini memang sering kali menghambatku dalam mencoba hal-hal baru dan melakukan hal-hal yang anak-anak lain seumuranku dapat lakukan. Pemikiran seperti inilah yang juga meyakinkanku bahwa aku tidak mampu melakukan apa-apa akibat kekuranganku.

Aku meletakkan tasku di lantai dan mengulurkan tanganku untuk menekan nada di atas piano.
Rasa malu dan gugup membanjiriku, tetapi apa salahnya memainkan beberapa nada secara asal-asalan? sudah tidak ada orang di sekolah. Aku memencet nada, satu persatu, mendengarkan suara yang dikeluarkan dengan penuh perasaan. Lalu pikiranku kembali ke pemuda yang kutemui barusan, bagaimana permainan pianonya menunjukkan perasaan yang paling dalam, membuatku merasa seperti aku telah lama mengenalnya. Bagaimana permainannya menunjukkan berbagai spektrum warna untuk muncul dalam mata benakku yang hanya mengenal kegelapan.
Aku menelan ludah.
Aku ingin bermain sepertinya. Aku ingin mengutarakan perasaanku, mengutarakan isi hatiku melalui nada-nada yang kumainkan. Aku ingin membuat orang-orang di sekitarku melihat warna-warna asing yang tidak pernah mereka lihat sebelummnya. Jari-jariku menari lebih cepat di atas piano, berusaha keras untuk melahirkan kembali nada-nada yang kudengar. Dunia di sekitarku meluas dengan setiap nada yang kumainkan.

"Tapi sayangnya"  Piano yang pernah aku kenal adalah bukan harapan hidupku, begitu kedengarnya, indah, merdu, dan asyik namun semuanya itu harapan palsu yang aku pelajari secara tidak manusiawi."Gelap"

Episode Bersambung.........!


Reporter: Pigai witokai

Editor: Admin

You may also like

"Awal memancing fisik di SD inpres mayubutu Madi Paniai papua" (Foto/doc/milik pigai witokai kutik foto berwarna hitam...

Tidak ada komentar: