/
0 Comments
•𝗞𝗶𝘀𝗮𝗵 𝗰𝗶𝗻𝘁𝗮 "𝗬𝗼𝘀𝗽𝗶, 𝗥𝗶𝗮 𝗱𝗮𝗻, 𝗠𝗮𝗿𝗹𝗶𝗻𝗰𝗲" 𝗱𝗶 𝗦𝗠𝗣 𝗬𝗣𝗣𝗞 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗼 𝗔𝗹𝗼𝗶𝘀𝗶𝘂𝘀 𝘁𝗶𝗺𝗶𝗱𝗮•
(Keterangan pada gambar diatas saya cantumkan versis amadi yang duluhnya yospi kenal di suatu tanah pengenungan paniai papua pada terletak di wilayah weyadide perkotaan di makobar/madi kota baru saat itu)


CERITA kata batin saya yospi dan marlince amadi-Hari baru telah dimulai. Matahari mulai menampakkan diri. Menyinari setiap sudut muka bumi. Memberikan kehangatan bagi seluruh makhluk yang tinggal di planet ini.
Tak terkecuali aku, dingin angin malam yang ku rasakan semalam, perlahan lahan berubah menjadi suatu kehangatan. Namun ada sesuatu yang berbeda dariku pagi itu. Aku merasakan ada yang hilang dari diriku semenjak ku dengar suaranya sedalam. 

Suara lembut yang biasanya selalu membuat malam malamku sebelumnya terasa indah. Namun entah mengapa suara itu semalam membuat hatiku benar-benar hancur berantakan, hingga ku rasakan separuh dari hatiku sudah tidak lagi bersamaku. Ya, semalam dia memutuskan hubungan kami berdua.
Hubungan yang berjalan dua setenga tahun lamanya. Aku tak tahu pasti mengapa dia tega meruntuhkan sendiri istana cinta yang kami bangun bersama.
Yang kami bangun dengan susah payah sejak kami duduk di bangku study SMP YPPK SANTO ALOISIUS TIMIDA. Namun apa daya, nampaknya alasanlah yang merutuhkan istana tersebut. Memang saat itu hampir 3 bulan aku menghilangkan kabar dari dia.

Namun dia cewek, dia lebih memilih alasan tersebut itu. Sedangkan aku hampir saja nafas ku menghilang, namun' aku jalani hari itu tanpa ada sedikit pun rasa semangat. Yang ada hanyalah rasa putus asa dan sakit yang terus saja menghujam hatiku.
Tak ku sangka dia yang selalu membuat aku tersenyum bahagia kini membuat aku terluka. Ada keganjilan yang ku rasakan, dia bukan dia yang ku kenal selama itu, masih ku ingat dengan jelas bagaimana dia memintaku putus selamanya.

"Yospi, maaf aku sudah tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini." Katanya dengan agak kasar.
"Ah jangan bercanda Ria, Gak lucu ah," ucapku.
"gak Yospi, aku gak bercanda. Aku udah gak kuat dengan cara menghilang tanpa kabar, Maafkan aku ya yos"
Berbunyi Tut. Tut… Belum sempat ku jawab ternyata sudah ditutup duluan. Aku berusaha menelpon balik tapi tak diangkat. Aku tak menyerah, aku coba lagi menelepon Ria berkali-kali tapi nampaknya dia sudah tak ingin lagi berkomunikasi denganku. Hingga ku tertidur karena terputus asa.

Hari berganti hari, seminggu sejak malam itu dia belum sekalipun menjawab panggilanku. Tak satu pun juga pesanku dibalasnya. Oh Tuhan apakah dia benar-benar membenciku? Mengapa dia berbuat seperti itu? Aku sendiri bahkan tak mengerti apa kesalahanku. Hingga aku putuskan untuk meminta bantuan dari temanku. Ku ajaknya bertemu di sekolah setelah pulang.

aku lambaikan tanganku pada temanku yang bernama "marlince, nama panggilan lince" saat sekolahnya tengah kebingungan seusai 
"Oh Yospi, ada apa nih? Kamu manggil aku ke sini," sapanya lembut.
"Aku ingin curhat sebentar, sekalian minta tolong," Jawabku.
"Wah, apa-apa?" dia nampak antusias.

Ku ceritakan kejadian yang menimpaku seminggu yang lalu. Lince nampak sangat antusias mendengarkan kata demi kata yang aku lontarkan dari mulutku. Nampaknya dia sangat ingin memahami inti permasalahnya sampai-sampai dia bertanya berulang kali kepadaku untuk meyakinkan apa yang baru saja didengarnya. Namun aku merasa aneh, meskipun tampak antusias dia tidak sedikit pun menampakkan rasa terkejut. Aku mulai berpikir yang tidak-tidak. Namun segera ku usir pikiran negatifkku itu.

"Bagaimana? Aku curiga yos, aku merasakan ada yang tidak beres."
mungkin lebih baik kamu menelepon Albertus ke sini."
"Memangnya kenapa aku harus memanggil Albertus"
"Sudahlah, kamu akan tahu sendiri nantinya."

Akhirnya, aku menuruti apa yang dikatakan, aku panggil teman sebangkuku yang bernama Albertus Gobay untuk datang.
Tak sampai 10 menit dia sudah duduk di samping kami berdua. Rumah Albertus memang hanya berjarak 2 km dari sekolah. aku sambut dia lalu segera ku ceritakan apa yang baru saja ku ceritakan pada lince. Namun Albertus juga nampak tak terkejut. Ya Tuhan memang sebenarnya apa yang terjadi?

"Yospi, sebelumnya aku minta maaf jika aku tak segera mengatakan hal ini tempo hari lalu." Ucap Albertus, "Memangnya ada apa Albert?" Tanyaku heran.
"Sebenarnya Ria putus kamu bukan karna alasan itu tapi dia juga…" Albertus bicara sambil menunduk.
"Apa Albert? Aku mulai tak sabar"
"Lanjut Albert" Sebenarnya selama kamu menghilang kabar ke Ria, Ria selalu dekat dengan anak kelas lain. Bahkan ku dengar mereka sudah pacaran 2 minggu., Begitu Yospi" Suara Albertus terdengar berat di telingaku.

"Kamu jangan bicara macam-macam Albrt!" jawabku.
"Aku gak tipu Yospi, banyak teman sekelas kita yang sudah tahu."
"Mana buktinya?" Aku masih belum yakin tentang apa yang barusan aku dengar.
"Ini." Sambil berkata demikian, lantas Albert segera mengeluarkan smartphone yang sedari tadi ada di dalam tasnya. Segera dia menunjukkan kepadaku sebuah foto yang menjadi profil dari kontaknya yang bernama Ria Putri R. yang tak lain adalah mantanku.

Lin,Al, jantungku serasa berhenti berdetak. Aku sangat terkejut. Ku lihat dia nampak berfoto selfie dengan pacar barunya itu dengan mesranya. Tega-teganya dia memasang DP tersebut padahal kami baru seminggu putus? Bagaimana bisa hubungan yang kami jalani selama ini harus berakhir hanya karena 3 bulan saja aku tidak berada di sampingnya? Hancur rasanya hati ini. 

Bahkan lebih hancur lagi daripada kemarin. Air mataku mulai menetes, setetes demi setetes membasahi pipiku. Aku tak tahu lagi harus berkata apa. Ku rasakan 2 buah tangan menepuk-nepuk kedua pundakku.

"Yang sabar ya Yospi, mungkin Tuhan memiliki rencana lain." Albert menghiburku.
kamu harus sabar Yos. Ingat segala sesuatu pasti ada hikmahnya." 
"Makasih ya Albert" jawabku.

Sore itu menjadi sore yang sangat suram bagiku. Bagaimana tidak? Dugaanku ternyata benar. Ada sesuatu yang aku curigai dari Ria saat dia memutuskan hubungan kita. Yang tidak aku ketahui namun diketahui oleh banyak teman sekelasku.

Malam itu ku putuskan untuk mengurung diriku di dalam kamar. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan setelah itu. Semalam kemudian, Aku tak tahu apa yang bisa aku lakukan karena aku sekelas dengan Ria.
Ria yang sudah jadi masa laluku. Ku harap aku bisa melaui cobaan ini.

Hari telah tiba. Hari yang bahkan aku sendiri tidak ingin hari itu datang. Ya, hari itu kami harus kembali masuk ke Sekolah. Kembali menjalani rutinitas kami seperti biasanya. Menambah ilmu, bercanda bersama kawan, makan di kantin, dan lain sebagainya.

Di sisi lain aku merasa senang karena aku dapat kembali bersenda gurau bersama teman-temanku. Namun jauh di lubuk hatiku ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang terus menerus mencegahku untuk masuk sekolah. Namun aku harus mengusir perasaan mengganjal itu. Aku adalah harapan keluargaku. Aku tidak mau mengecewakan orangtua dan adik-adikku hanya karena aku putus cinta. Aku harus bisa! 15 menit perjalanan yang ku tempuh dari rumah. Akhirnya sampai juga aku di sekolah. Segera ku parkir sepedaku.

Setelah memarkir, aku berjalan tanpa semangat menuju ruang kelas. Banyak teman yang menyapaku selama aku berpapasan di sepanjang koridor menuju kelas. Langkahku terhenti ketika aku menatap tulisan XI 1 B di atas sebuah pintu. Ya, itulah kelasku, ku langkahkan kakiku menuju ke dalam ruangan yang ku rasakan akan menjadi "Neraka" bagiku. Lalu. Ku melihat wajah yang sangat familiar.

Aku terdiam tak bisa bergerak maupun berkata sepatah kata pun. Ingin ku sapa dirinya. Meskipun dia telah melukaiku, namun rasaku ini tak pernah padam padanya. Belum sempat ku buka mulutku, dia memalingkan mukanya dariku. Bahkan dia seperti tak mau menggubris aku yang berdiri mematung di depan pintu kelas. Sakit. Itulah yang ku rasakan saat itu. Apakah salahku sehingga dia tega memalingkan muka dariku. Namun biarlah, mungkin seminggu dua minggu lagi dia bisa bersikap seperti dulu lagi, fikirku.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Sudah 5 bulan semenjak kejadian itu, namun sikapnya padaku tidak kunjung berubah. Dia menganggapku tak ada. Selama 5 bulan itu aku terus berusaha memperbaiki keadaan. Namun usahaku itu sia-sia. Tak pernah sekalipun dia berbicara panjang lebar kepadaku, jangankan berbicara, menatap aku saja dia jarang melakukan.
Sungguh sakit rasanya hatiku ini. Separuh hatiku telah hilang dirampasnya. Setengah hati yang tersisa pun disakitinya. Hingga rasanya aku sudah tak bisa mencintai yang lain lagi. Bahkan aku menutup diri dari para perempuan yang setahun belakangan ini mulai mendekatiku.

Banyak sekali temanku yang memberi nasihat padaku untuk melupakannya. Tapi entah mengapa semakin ku coba untuk melupakannya semakin ku tak bisa menghilangkan bayang-bayang dirinya dari kepalaku. Tak adil memang. Aku tetap saja mencintai dia yang jelas-jelas sudah meninggalkanku. Dia yang jelas-jelas sudah menyakiti hatiku. Tuhan, jika memang dia bukan jodohku tolong hapuskanlah perasaanku ini Tuhan. Biarkanlah hati ini dapat menerima penggantinya.
5 bulan ini ku jalani hidupku dengan penuh keterpurukan. Namun ada satu orang temanku yang selalu menyemangatiku. Dia jugalah yang bersedia mendengar segala curhatku, Dia adalah "marlince Degei"

Aku tak tahu bagaimana keadaanku bila tak ada dirinya. Dia selalu bisa membuat aku tersenyum kembali. Walau terkadang aku pikir bahwa aku ini munafik. Tampak luarnya saja aku tersenyum, namun sebenarnya dalam hati aku menangis. Sebenarnya aku tak ingin terlihat seperti laki-laki yang lemah di hadapan Lince. Namun entah mengapa di saat aku mencurahkan segala isi hatiku pada Lince, aku selalu menitikkan air mata. Hari itu Aku menyempatkan diri pergi ke rumah Lince sekali lagi untuk curhat. Setelah mandi dan bersiap-siap, aku segera berangkat menuju rumah Lince. 30 menit kemudian aku sudah sampai di rumahnya. Setelah dipersilahkan masuk, aku mulai bercerita panjang lebar kepadanya.

"Aku harus bagaimana lagi Lin, aku tak bisa melupakannya semudah itu." Kataku putus asa.
"Yospi, mungkin kamu harus berusaha mencari penggantinya mulai saat ini juga. Aku gak tega kalau harus lihat kamu nangis terus kayak gini. " Kata Lince.
"Tapi Lin, aku gak mau menyakiti hatinya. Aku sudah merasakan bagaimana sakitnya jika orang yang kita cintai bersama orang lain." Aku menimpali.
"Lalu mau kamu bagaimana Yos?" Tanya Lin.
"Ya, mungkin selama aku masih satu kelas dengannya aku gak akan dekat dengan cewek mana pun!" jawabku tegas.

"Tapi itu kan menyakiti hatimu sendiri?" nampak Lince tak setuju dengan keputusanku.
"Biarlah hatiku tersakiti. Yang penting dia tidak tersakiti oleh orang lain." Jawabku.
"Aku tak setuju dengan keputusanmu Yos, di luar sana masih banyak cewek yang menyukaimu. Seharusnya kamu harus membuka hati untuk mereka. Bagaimana kamu bisa terus mengharapkan dia yang jelas-jelas sudah menyakiti hatimu? Dia bahkan tidak ada niatan lagi berbicara padamu. Bagaimana kau masih mengharapkan dia?" Lince berbicara dengan nada yang cukup keras.

Perkataan "Lince" barusan seakan membuat aku tersadar dari mimpi yang aku alami. Entah mengapa aku terbius dengan ucapannya barusan. Ku ingat-ingat lagi kejadian yang ku alami selama 5 bulan terakhir. Dia yang tega memutuskanku, dia yang menganggap aku tak ada. Tak terasa air mataku kembali mengalir membasahi pipiku.

"Kamu benar juga Lin, terima kasih," Kataku pelan.
"Iya Yos, aku selalu ingin yang terbaik buat kamu." Lince, tersenyum manis perlahan

Semenjak itu. Aku mulai dekat dengan Lince. Ada perasaan nyaman saat aku dekat dengan dia. Entah mengapa dia selalu bisa menghiburku di saat aku terpuruk. Dia sangat baik padaku. Setiap pulang sekolah aku tak langsung pulang, melainkan duduk-duduk di depan sekolah. Kami selalu bercanda dan bersenda gurau bersama.

Bahkan Lince juga menganggapku teman curhatnya. Dia tak segan mengungkapkan apa yang menjadi keluh kesahnya selama Itu. Ternyata "Lince" menyukai seseorang, tapi seseorang yang disukainya sangat mencintai orang lain. Sehingga Lin tidak bisa mengungkapkan perasaannya saat itu.

"Seharusnya kamu segera mengungkapkan perasaanmu itu Lin. Pasti sakit rasanya memendam perasaanmu itu sejak lama."
"Iya Yos, aku tahu itu sakit. Tapi lebih baik aku diam saja, daripada dia nantinya malah menjauhiku ketika dia tahu semua ini."Jawab Lin.
"Tapi cepat atau lambat dia pasti tahu Lin,"
"Ya Yos, aku tahu itu."

Dua bulan kemudian, hubunganku dengan Lince semakin dekat. Aku mulai menyukai Lin tapi bukan karena aku mencintainya. Aku menyukainya karena kini dialah yang menghiasi hari-hariku. Gadis yang membuat aku bisa tersenyum dan tertawa kembali. memang aneh, mungkin laki-laki lain akan jatuh cinta pada Lince apabila mereka berada di posisiku. Namun hatiku ini tidak bisa melupakan Ria walaupun sesaat saja. 
Aku bahkan tidak bisa lagi mencintai gadis selain Ria. Apakah Lince menyukaiku? Jika iya ku harap aku bisa segera mencegahnya mencintaiku lebih dalam lagi. Namun aku bingung bagaimana aku harus mengatakannya. Jadi dengan terpaksa aku harus bungkam sambil menjalani hubungan tanpa statusku dengan Marlince.

Hari itu sepulang sekolah Lince mengajakku pergi ke bukit "TOGOKOTU" Aku ikuti saja keinginannya karena dia berkata bahwa dia ingin mengatakan sesuatu padaku. 20 menit kemudian kami sampai di bukit. Langsung saja kami menuju di pinggiran gunung batu yang kebetulan kosong.

"Emang apa yang kamu mau bicarakan Lin?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Kamu ingat curhatku tentang cowok yang aku sukai Yos?" Dia bertanya balik padaku.
"Ingat. Apakah dia sudah tahu bahwa kau menyukainya? Aku penasaran.
"Tidak, mungkin dia tak akan pernah tahu sebelum aku mengatakannya sendiri." Jawab Lin.
"Memang siapa cowok yang kamu sukai Lin?" aku bertanya sekali lagi.

"Kamu Yospi, kamu! Tidak bisakah kamu merasakan perasaanku padamu? Sudah semenjak aku mengenalmu aku mulai suka padamu. Namun ternyata kamu sudah menjadi milik Ria. Bertahun-tahun semenjak kita satu SMP dulu aku memendam perasaan ini. Sudah tak terbayang sakit yang harus aku tahan selama ini. Tapi sejak kamu putus dengan Ria.

Rasa sakitku ini perlahan-lahan hilang, bahkan kini rasa sakitku hampir seluruhnya hilang karena kini aku telah dekat denganmu, kamu juga kini mengisi hari-hariku. Kamu mulai perhatian padaku. Yos, aku sayang kamu, aku cinta kamu. Apakah kamu juga cinta aku?" Lince, mengungkapkan semua yang ada dalam hatinya selama ini. Bahkan sambil menitikkan air mata.

"Lince, maafkan aku ya." Aku merasa bersalah padanya.
"Maaf kenapa?"
"Aku sebenarnya menyukaimu. Namun kamu tahu sendiri Lin, separuh hatiku telah dirampas oleh Ria. Aku tak ingin jika aku mencintaimu hanya setengah-setengah. Maafkan aku ya Lin. Maaf."

"Tidak apa Yos, aku akan berusaha agar kau mencintaiku sepenuhnya." Lince memelas.
"Ya. Tapi mungkin butuh waktu lama." Jawabku.
"Tidak apa-apa. Jadi apakah kau mau jadi pacarku?" tanya Lince.
"Em, kalau kamu mau dicintai setengah-setengah ya boleh saja." Jawabku.
"Makasih Yos. Aku akan berusaha membuatmu mencintaiku." Marlince nampak bahagia sekali.

Kini aku telah berpacaran dengan Lince. Nampaknya dia sangat bersungguh-sungguh untuk membuat aku mencintainya sepenuh hati. Meskipun pada awalnya aku sulit mencintainya, namun akhirnya aku luluh juga. Kini separuh hatiku sudah tumbuh lagi. Dan, yang menumbuhkannya adalah Marlince. Gadis yang seribu kali lebih baik dari pada Ria. Terima kasih Tuhan. Ternyata memang benar, apa kata orang. Di balik segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Kini aku bisa merasakan bahagia yang jauh melebihi dari pada bahagia yang pernah aku merasakan duluh...!


*.Kisah bercinta amadi marlince dan yospi sudah-TAMAT ✅

You may also like

•𝗞𝗶𝘀𝗮𝗵 𝗰𝗶𝗻𝘁𝗮 "𝗬𝗼𝘀𝗽𝗶, 𝗥𝗶𝗮 𝗱𝗮𝗻, 𝗠𝗮𝗿𝗹𝗶𝗻𝗰𝗲" 𝗱𝗶 𝗦𝗠𝗣 𝗬𝗣𝗣𝗞 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗼 𝗔𝗹𝗼𝗶𝘀𝗶𝘂𝘀 𝘁𝗶𝗺𝗶𝗱𝗮...

Tidak ada komentar: