/
0 Comments
  LOGO KOMUNAL TRADISI PAPUA

KABARWAKOUPO.COM - KOMUNAL TRADISIONAL TAK ADA PROLETAR, KOMUNAL TRADISIONAL COCOK MELAWAN MODERNISME, KAPITALISME, KOMUNISME, (CHINA, KOREA DAN AMERIKA)  
MEE WAJIB KERJA REBUT TONAWI - MELAWAN DENGAN PANGAN LOKAL DIATAS TANAH ADAT..

Komunal tradisional adalah pembawahan hidup sosial dari masa primitive hingga sekarang decade ke dekade telah lewat terhitung manusia Mee telah berbudaya hidup bersosial, beragama terhadap kepercayaan tradional/ugatame, Berekonomi Dengan kulit bia sebagai alat tukar selain barter, manusia Mee juga berpolitik mencari nama Tonawi (bigman) hal ini sama seperti yang di kenal oleh manusia Mee di zaman modern merupahkan stuasi penjelmaan fundamennya manusia Mee tak berubah sikap dan Tindakan seutuhnya.
Kehidupan bersosial sudah menjadi budaya nenek moyang kita, zaman itu sangat efisien terhadap target pada tujuan yang hendak di rebut,  tidak membuang waktu tenaga dan biaya sehingga bebas dari sakit penyakit, hidup sangat teratur dalam bersosial dengan dasar pengelolahan tanah adat menghasilkan pangan local terdiri dari keladi, ubi, pisang, ubi jalar, sayur-sayuran buah merah dll. Mereka tidak menggunakan uang membeli pangan lokal melainkan Petani membagi-bagikan gratis Bersama keluarga atau masyarakat yang membutuhkan kecuali beli bibit babi di bagian timur dari Meuwodide sekarang disebut  Kab. Intang Jaya, nenek moyang Mee Menggunakan Alat tukar (Mege) inilah kehidupan sosial yang terbukti memberi apa adanya ini sangat bertolak belakang dengan kasih wajib sosialis modern.
Sebelum mengenal berbagai ideologi seperti liberalisme, komunisme/sosialisme modern, anarkisme (yang bisa hidup tanpa pemerintahan) konservatisme,  Nazisme dll orang Papua sudah memperaktekan komunitarianisme tradisional berpaham budaya dan agama. Dalam konteks ini rakyat Papua seluruhnya hidup sebagai tonawi (bigman) secara primordialisme yang berpegang teguh budaya atau paham, adat isti adat dan kepercayaan yang ada didalam sejak pertamanya. 
Komunitarianisme tradisional adalah petani, Nelayan, dan pemburuh, tetapi Proletar bukan paham komunal tradisional.  
Proletar adalah istilah yang digunakan untuk mengidentifikasikan kelas sosial rendah; anggota kelas tersebut disebut proletarian. Awalnya istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan orang tanpa kekayaan; istilah ini biasanya digunakan untuk menghina atau merendahkan. Di era Roma Kuno penamaan ini memang sudah ada dan bukan hanya orang tanpa kekayaan saja, melainkan juga kelas terbawah masyarakat tersebut. Hal ini terjadi sampai Karl Marx mengubahnya menjadi istilah sosiologi yang merujuk pada kelas pekerja.
Kelas Pekerja dalam komunal tradisional di papua adalah istri – istri dari seorang tonawi, Bigman hendak memiliki berjumlah banyak istri untuk mempermudahkan kerja kekayaan yang dimiliki seorang suami. Istri tak mengharapkan Upah namun pekerjakan untuk mengangkat nama besar seorang tonawi masa lalu, namun sekarang dalam kehidupan dalam ajaran agama yang radikal tentu pertimbangkan dalam perkembangan.
Dalam pemikiran Karl Marx, ini adalah kelas kedua dalam stratifikasi sosial yang ia ciptakan. Proletar adalah kelas yang menerima gaji oleh kelas pertama yaitu kelas majikan ini sangat bertolak belakang dengan kelas komunal tradisional yang tak mengenal harapan upah. Kelas Proletar Modern Mereka bekerja guna memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Sedang kelas majikan bekerja dengan mencari untung atau laba. Kelas Proletar sering menjadi target eksploitasi para majikan yang berorientasi kapitalis ini. Untuk itu mereka sering diperas tenaganya dan diberikan gaji yang rendah guna kepentingan meraup laba sebesar-besarnya. Para proletar ingin hidup dengan tenang, maka dia yang hidup untuk bekerja akan mengalami alienasi atau keterasingan. Mereka adalah orang-orang yang tak bisa menciptakan lapangan kerja sendiri sehingga menumpang pada para pemodal untuk menciptakan barang dengan nilai lebih. Nilai lebih ini tercipta dari rumusan nilai barang dikurangi nilai seluruh hasil produksi dan menciptakan untung.

1. TANAH ADAT WARISAN KOMUNAL TRADISIONAL

Tanah Papua milik 300 lebih suku yang berdomisili di Papua, tanah satu-satunya kekayaan turun temurun nenek moyang kita dari pencipta langit bumi dan segala isinya, papua untuk suku-suku Papua, demokrasi kesukuan menjadi topik panas disoroti oleh kaum terdidik untuk di kajikan secara kajian ilmiah. Penerbitan Buku sem Karoba yang ketiga tentang Penutup, semua ulasan makna demokrasi kesukuan papua sangat jelas terkaji, penjelasan dalamnya tidak terlepas dari gaya hidup orang papua, sejarah budaya hidup rakyat Papua, dan kehidupan masa depan suku-suku papua. Kesukuan adalah Batasan Bahasa dan geografis untuk membedahkan kekayaan turun temurun agar mengantisipasi pemusnahan budaya Papua.
Negara yang kuat adalah negara yang mandiri seperti anarkisme tanpa kordinasi dengan petinggi negara dan manajemen negara sebelum melakukan hak Lembaga – Lembaga. Namun bagaimana dengan ideologi yang terus didikte oleh petinggi negara, Lembaga atau perusahan yang melakukan sewenang – wenang individu adalah pelanggaran hukum, kemudian ideologi pasti memnbangun membangun hubungan bilateral dengan negara lain melalui hubungan misis, hubungan politik, dan hubungan ekonomi lainya.

2. CHINA DAN KOREA NEGARA KOMUNIS PRAKTEK KAPITALIS

Berjumlah banyak perusahan milik china dan korea selain PT. Freeport milik Amerika Serikat di tanah Papua, Negara – negara ini sudah bersamaan memperaktekan Kapitalisme setelah pembubaran Unisoviet Komunisme pada tahun 1991. Baiklah kita membangun ideology sosialisme sebagai paham revolusioner terhadap reaksioner tetapi tidak seutuhnya akan mendapatkan hasil semaksimal mungki, sebab sosialisme/ komunisme adalah yang memperaktekan kapitalisme dipapua.
Seandainya kapitalisme itu negara – negara yang paham liberalisme tentu kita punya ideologi yang cocok adalah konservatisme sebagai oposisi, itulah tolak ukur revolusioner yang gagal memilih ideologi sosialisme memperkayakan perusahan milik komunis (china dan Korea)
Menurut saya komunal Tradisional adalah jalan terbaik melawan modernisme karena kepentingan modernisme tak menguntungkan satupun kepentingan rakayat papua. Mereka datang dari barat dan timur dengan tujuan menguras kepentingan rakyat papua.

3. SEJARAH MEEPAGO MELAWAN JEPAN, PERANG PEPERA 1969, 1982

Ssejarah singkat orang-orang tua meepago melewati beberapa decade perang pertahangkan suku – suku Meepago dan mempertahangkan bangsa Papua pada tahun silam perang niponi dibawah pimpinan Mutopai Gobay, perang pepera 1969 dibawah pimpinana Karel Gobay dan Perang OPM 1982 dibawah pimpinan Kabuda Gobay di lanjutkan oleh Gend. Tedious Yogi hingga sekarang. 
Semua pemimpin perang dan pasukan perang tak menggunakan alat perang modern mengalahkan musuh merupahkan satu wacana diskusi revolusioner sekarang, jangan bilang itu pada masanya, karena perubahan perkembangan. Padahal Di masa itu musuh menggunakan senjata tajam sedangkan orang tua kita perang dengan alat-alat perang adat seperti uka mapage, etouto, boke saja, itulah perang upaya memepertahangkan hak waris tanah yang tak terdugakan.
Ideologi yang lahir dari kebiasan hidup nenek moyang akan mengancam kepentingan global, modernisme dan kapitalisme serta kolonialisme. Kembali ke pangan local di seruhkan oleh beberapa pimpinan Gerakan dan pimpinan ULMWP Jacob rumbiak adalah solusi terbaik melawan kapitalisme, itulah KOmunal Tradisional.

Kembali ke Komunal Tradisional Melawan (kapitalisme, komunisme - china dan Korea) Hidupkan Pangan Lokal, Komunal Tradisional saja yang melawan modernisme.

Kapitalisme dan komunisme sama-sama kapitalisme di Papua. Semua saham milik Amerika, China, korea, dan lain sebagainya China dan Korea negara  komunisme juga sedang  mmemperaktekkan kapitalisme di Papua sehingga ideologi komunis/sosialis menumbuh suburkan kapitalisme yang berasal dari blok timur.
_____________________
SAVE ULMWP
SAVE WPA
SAVE GKPM
KOMITE AKSI
SAVE MEE-PAGO
______________________

Author: Admin

Reporter: Abet mote

You may also like

  LOGO KOMUNAL TRADISI PAPUA KABARWAKOUPO.COM -  KOMUNAL TRADISIONAL TAK ADA PROLETAR, KOMUNAL TRADISIONAL COCOK MELAWAN MODERNI...

Tidak ada komentar: