/
0 Comments
            Gambar Abet budau mote

NABIRE KABARWAKOUPI_“Agama adalah candu bagi masyarakat.” Kalimat ini merupakan ungkapan paling terkenal dari Marx mengenai agama. Kalimat ini kemudian sering dijadikan sebagai alat untuk mendiskreditkan Komunisme dengan kesimpulan yang tendensius: Komunisme adalah paham yang anti agama.
Saya akan memberikan sebuah garis pemikiran yang tegas untuk masalah ini, agar persepsi yang salah tidak terlalu lama berada di area samar-samar, agar publik luas, terlebih kaum proletar, dapat memahaminya dengan jelas. Masalah ini memang perlu segera mendapatkan jawaban ilmiah di atas dasar materialisme dialektika, yakni bagaimana filsafat Marxis berbicara soal agama.
Terlebih dahulu perlu dipahami bahwa tujuan utama dari perjuangan kaum Marxis adalah melakukan transformasi sistem kehidupan masyarakat dari kapitalisme ke arah Sosialisme-Komunisme, baik pada skala nasional maupun internasional. Kapitalisme, sebagai sebuah sistem ekonomi-politik, dalam pandangan Marxisme, berwatak menindas, tidak adil, dan tidak manusiawi. Watak beringas dan eksploitatif dari sistem kapitalisme ini harus dihentikan dan penciptaan tatanan dunia baru yang manusiawi harus diperjuangkan.
Pernyataan Marx di atas, bahwa agama adalah candu bagi masyarakat, yang tertuang di dalam Kata Pengantar (untuk) “A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right”, adalah pernyataan Marx yang paling tegas dan jelas soal agama. Tetapi teks tersebut sering kali disalahpahami, karena para pembaca tidak masuk ke dalam seluruh rangkaiannya dengan jeli. Kalimat “Agama adalah candu bagi masyarakat” sering dikutip dengan pemahaman yang serampangan dan cekak, serta dipahami sebagai sikap anti-agama. Padahal, eksposisi yang sesungguhnya, pernyataan di atas merupakan kritik Marx terhadap kapitalisme yang menempatkan agama sebagai pembangkit semangat bagi rakyat tertindas agar tetap dapat bertahan di alam penindasan.—Terlepas dari pandangan anti-mistiknya yang telah banyak ditulis, Marx tidak menjadikan agama sebagai musuh utama dalam karya-karyanya.
Sebelum sampai pada kalimat “Agama adalah candu bagi masyarakat”, Marx menulis, “Agama adalah keluh-kesah makhluk tertindas, jantung-hati dari dunia yang tak berperasaan, dan jiwa dari situasi yang tak berjiwa.” Marx menyampaikan analisisnya ini berdasarkan fakta-fakta yang terjadi di zamannya, terutama di Eropa. Ia berpendapat bahwa penciptaan dan (sekaligus) penguatan institusi agama bertujuan untuk melanggengkan pikiran-pikiran mistik di masyarakat, karena hal ini sangat berguna untuk mengalienasi masyarakat dari realitasnya, agar masyarakat mampu bertahan dari segala bentuk penindasan. Peng-konstruksi-an dan peng-institusi-an pandangan-pandangan mistik secara kokoh, mapan dan terkendali, yang kini kita sebut “agama”, yang dulu, di masyarakat kuno, pandangan-pandangan mistik ini dijadikan sebagai sumber pengetahuan dan penghiburan, sepertinya, di era kapitalis, perlu dilakukan. Di era kapitalis, secara legal, agama bertugas untuk menghibur dan menyampaikan ilusi-ilusi indah. Realitas hidup yang penat akibat eksploitasi, sebuah kenyataan bahwa kaum miskin tidak mampu mendapatkan kebahagiaan ekonomi di jagad raya yang sekarang didiami, memberikan peran khusus pada agama untuk mengatakan bahwa mereka akan menemukan kebahagiaan sejati di kehidupan kelak, yaitu di alam setelah kematian.
Meskipun Marx mengkritik agama dengan sangat pedas, tetapi bukan berarti ia berkata tanpa simpati. Bagi Marx, agama telah berkontribusi banyak, yaitu memberikan penghiburan kepada rakyat yang tengah berada dalam kesulitan, seperti seseorang yang sedang mengalami cidera fisik lalu mendapatkan obat pereda sakit. Tetapi, masalahnya, obat-obatan pereda sakit itu tidak mampu menyembuhkan, obat-obat itu hanya meredakan. Demikian pula dengan agama, ia tidak mampu mencerabut akar penyebab rasa sakit dan penderitaan rakyat; sebaliknya, agama malah membantu mereka untuk melupakan sebab-sebab mereka menderita, dan mengajaknya berjalan-jalan ke dunia imajiner.
Apakah agama benar-benar buruk di mata Marx, dan selanjutnya di mata kaum Marxis? Tentu, tidak! Meskipun di dalam agama tumbuh banyak penyakit, namun agama bukanlah penyakit itu sendiri. Agama dipahami sama dengan institusi-institusi ritus lain yang terdapat di masyarakat, bahwa ia dapat dijadikan sebagai alat oleh kekuasaan untuk mengelabuhi rakyat, atau sebaliknya, dijadikan oleh rakyat sebagai medium pembebasan. Oleh sebab itu, kaum Marxis sungguh tidak anti-agama, terlebih memusuhinya, tetapi ingin memposisikan agama sebagai salah satu alat pendukung bagi pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan.

     {KOMUNAL TRADISI PAPUA}

You may also like

            Gambar Abet budau mote NABIRE KABARWAKOUPI_“Agama adalah candu bagi masyarakat.” Kalimat ini merupakan ungkapan pali...

Tidak ada komentar: